Guru Yang Bersyukur
Selasa pagi ( 14 Juli 2009) sebelum bergegas meninggalkan rumah untuk berangkat ke tempat tugas, langkah terhenti-hati tersentak melihat TV menayangkan berita, (kok masih ada ya...) Di layar kaca terkihat beberapa siswa dan para guru lengkap dengan seragam sekolah terlihat mendorong-dorong pagar tinggi penutup gerbang sekolah mereka. Sambil berteriak 'Buka ...! buka pintunya...buka pagarnya... kami ingin masuk kami ingin belajar! disusul teriakan dan tangisan siswa lainnya, dan salah satu siswa jatuh (lemas karena sedihnya atau apalah...) Ini bukan tayangan sinetron... ini kenyataan di salah satu daerah di negara kita. Saat bertubi iklan tentang wajib belajar dan sekolah gratis...saat bergaung kalimat motivasi untuk 'mencerdaskan kehidupan bangsa' Ternyata masih ada sekolah yang akan dirubah fungsi menjadi hotel (tanpa kompromi kepada warga sekolah juga tidak menyediakan tempat baru bagi mereka untuk meneruskan sekolah...
Saya teringat pada pelaksanaan raker guru di sekolah kami. Sungguh kelelahan tidak tersirat diwajah teman-teman guru. Yang kami bagi dalam 3 komisi. Kami menyadari bahwa sebagai sekolah swasta yang independen (non BOS/BOP) kami perlu memberikan pelayanan yang terbaik bagi para warga sekolah. Dan tentunya memang sekolah ini adalah bagian dari dapur kami. Bersyukur itu kata-kata yang menjadi santapan pagi kami setiap harinya, kami tidak mengalami hal-hal berat yang mungkin masih para teman guru alami diberbagai daerah lainnya. Kami hanya baru bisa berbagi jika ada alat tulis atau buku bekas dan layak pakai bisa kami kumpulkan untuk dapat digunakan bagi para siswa di sekolah yang membutuhkannya. Kami sangat ingin berbagi pengetahuan dengan para sekolah yang mau 'Sharing' dengan kami mengenai metode pengajaran-pemanfaatan daur ulang atau apapun.
Cerita di layar kaca tadi kami 'sharing'kan pada para siswa SD saat ikrar pagipada Kamis 16 Juli,ke 450 siswa terdiam, dan kami minta komentar mereka secara acak (ini bagian dari lifeskill yang kami ajarkan disekolah 'compassion') Tidak semua komentar dapat kami dengar karena terbatasnya waktu.Ada saja komentar mereka 'kasihan'...'untung kita tidak begitu..." sampai ada tambahan komentar lucu ' pindah aja ke Jakarta' 'ajak saja kesekolah kita? (wah sayang ... ini lebih tidak mungkin, kapasitas kelas kita saja sudah tidak bisa menerima siswa baru lagi) Sharing pada saat ikrar adalah bagian dari rasa syukur kami sebagai guru berharap di 5 menit pertama para siswa mau belajar dan mendapatkan pelajaran betapa pentingnya 'pembelajaran karakter' bagi kehidupan mereka dimasa yang akan datang
Yang kami bisa lakukan sebagai tanda bersyukurnya kami, barulah melaksanakan amanah yang diberikan pada kami sekuat kemampuan kami, walaupun tentunya masih jauh dari kesempurnaan,semoga Allah senantiasa membimbing kami
Minggu, 19 Juli 2009
Label: gallery 2 -guru yang bersyukur
Diposting oleh Novi Tugasku di 03.18 0 komentar
Sabtu, 13 Juni 2009
Bersyukur
Suatu kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak begitu mudah menjalankannya. Saat salah seorang sahabat terdekat mendapatkan musibah... yang (entahlah apa yang terjadi jika saya yang mengalaminya)...
Saya menemuinya di rumah sakit, lemah terbaring ,tapi tetap tersungging senyum menyambut tamu-tamu yang datang. Ia yang sejak remaja tidak meneruskan kuliah karena membantu keluarga bekerja untuk menambah nafkah keluarga sejak ayah berpulang. Pekerjaan apa yang dapat diperoleh oleh seorang lulusan SMU ? Itu kalimat yang disampaikannya, saat ia putuskan menerima tawaran pekerjaan disebuah pabrik.
Radiasi mesin pabrik itu penyebab penyakitnya menurut diagnose dokter yang merawatnya namun dengan enteng dia katakan 'ini hadiah dari Allah'... Subhanallah.. kok bisa?
Dia bilang Allah sudah mengatur semuanya, sehingga saat dia sudah harus berhenti bekerja semua adik sudah selesai sekolah, bunda sudah mendapatkan pasangan hidup, dan sekarang Allah minta saya agar lebih dekat denganNYA, melalui 'hadiah'ini.
Dan sahabat terdekat itu berpulang di usia 27 tahun... diusia yang sama dengan saya saat itu namun belum tentu atau pasti tidak sama kedekatan saya kepada sang Khaliq- sungguh tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dia. Betul... dia mendapat hadiah terindah dikepulangannya.
Cerita kedua...
Sahabat suami, yang istrinya juga sahabat saya. Dia dikenal tegas dalam menegakkan suatu prinsip. Sejak kuliah di LIPIA (dahulu LPBA)semua mengenalnya begitu. Turun tangan dalam segala hal yang berhubungan dengan musibah orang lain. Sibuk membangun lembaga keuangan kecil-kecil-an secara syariah dilingkungan kami. Sehingga banyak tukang jamu-tukang sayur keliling yang jadi langganan pinjaman syari'ahnya. Dakwah tidak hanya dengan lisannya, juga dilakukan dengan perbuatannya (subhanallah,,,)Sampai suatu ketika Allah berkehendak lain, ada titik sariawan di lidahnya... yang tidak terlalu difikirkannya karena dianggapsariawan biasa.
Sampai suatu ketika... sariawan agak melebar, dan dokter mengatakan sudah 'tumor ganas' stadium awal. Dokter sarankan untuk membuang bagian tersebut agar tidak menyebar...kalimatnya walau diucapkan terbata-bata, "Dengan bahasa apa saya berdakwah jika separuh lidah harus dipotong ?" (lalu bagaimana dengan saya yang punya lidah sempurna masih dipenuhi dengan hal yang mungkin tidak diridhoi Allah. Astaghfirullh)
Diagnose dokter ke kepulangannya tidak terlalu lama.. . ia masih sibuk koordinasi mengurusi bank syariahnya walau memang tidak maksimal. Terkahir ia minta semua nasabah yang meminjam uang, agar dibebaskan dari beban pinjamannya.Ia masih berharap diberi kekuatan untuk umroh... Sempat dibandara dilarang melanjutkan karena pendarahan terus, namun ia yakin bisa melewatinya... Dan betul ia dapat melewatinya, selama masa umroh menurut keluarga yang mendampingi dapat dilewatinya dengan baik. Sepulangnya terlihat lebih segar, kami sering menjumpainya sedang berjemur, namun enggan untuk kerumah sakit. Kurang lebih satu minggu, ia menghadap sang Khaliq dengan kain umroh sebagai kafannya, dengan gelombang lautan jamaah yang menyolatinya, berganti-ganti (lebih kurang ada lima kali pergantian jamaah karena penuh sesaknya mushalla yang ditempatinya)... Subhanallah, apa yang dapat kita bawa, sementara sahabat ini sudah menunjukkan keistimewaannya.
Cerita ketiga saya
Hal ini berhubungan dengan orang terdekat saya, yang tidak mau disebut identitasnya, ia punya dua tabungan dirumahnya yang lucunya satu tabungan berukuran kecil dan satunya berukuran besar. lucunya... di tabunganberukuran besar sering dimasukkan logam-logam atau uang receh, namun ditabungan yang berukuran kecil sering uang besar yang dimasukkannya. Saat saya bertanya kenapa ? Ia menjawabnya.. nanti kamu akan tau sendiri
Belakangan saya tahu, rupanya tabungan kecil itu sering berubah bentuk atau warna dikarenakan memang sering langsung dibuka dan diberikan kepada "yang berhak- menurutnya"
Saya tanya lagi ... Lha siapa yang berhak? Ya... yang datang dengan kesulitan keuangan-lah yang berhak, itu berarti rejekinya.(Masya Allah... )Ia tambahkan... jangan lupa lho... yang ditabungan kecil itu tabungan saya yang sesungguhnya karena itulah milik saya yang abadi. Sedangkan yang ditabungan kecil belum tentu... Subhanallah -Alhamdulilah-Laailahaailaalah -Allahu Akbar
Satu lagi... ingat ya , uang itu dari Allah ya... milik Allah, masa kita hanya jadi alat pengantar saja tidak mau...???Tubuh ini-pun hanya pinjaman Allah, jadi berikan tabungan terbaik baginya untuk tempat kembali terbaiknya(pondok Indah terindah versi akhirat. . . candanya)
Allahu akbar, saya yang paling bersyukur- Allah pertemukan dengan orang-orang istimewa, karena mereka bertiga adalah salah satu inspirasi terbesar saya ' mensyukuri hidup yang mungkin-memang sangat singkat sekali (Wallahu Alam)
Label: gallery
Diposting oleh Novi Tugasku di 07.21 0 komentar
