Minggu, 19 Juli 2009

Guru Yang Bersyukur

Selasa pagi ( 14 Juli 2009) sebelum bergegas meninggalkan rumah untuk berangkat ke tempat tugas, langkah terhenti-hati tersentak melihat TV menayangkan berita, (kok masih ada ya...) Di layar kaca terkihat beberapa siswa dan para guru lengkap dengan seragam sekolah terlihat mendorong-dorong pagar tinggi penutup gerbang sekolah mereka. Sambil berteriak 'Buka ...! buka pintunya...buka pagarnya... kami ingin masuk kami ingin belajar! disusul teriakan dan tangisan siswa lainnya, dan salah satu siswa jatuh (lemas karena sedihnya atau apalah...) Ini bukan tayangan sinetron... ini kenyataan di salah satu daerah di negara kita. Saat bertubi iklan tentang wajib belajar dan sekolah gratis...saat bergaung kalimat motivasi untuk 'mencerdaskan kehidupan bangsa' Ternyata masih ada sekolah yang akan dirubah fungsi menjadi hotel (tanpa kompromi kepada warga sekolah juga tidak menyediakan tempat baru bagi mereka untuk meneruskan sekolah...

Saya teringat pada pelaksanaan raker guru di sekolah kami. Sungguh kelelahan tidak tersirat diwajah teman-teman guru. Yang kami bagi dalam 3 komisi. Kami menyadari bahwa sebagai sekolah swasta yang independen (non BOS/BOP) kami perlu memberikan pelayanan yang terbaik bagi para warga sekolah. Dan tentunya memang sekolah ini adalah bagian dari dapur kami. Bersyukur itu kata-kata yang menjadi santapan pagi kami setiap harinya, kami tidak mengalami hal-hal berat yang mungkin masih para teman guru alami diberbagai daerah lainnya. Kami hanya baru bisa berbagi jika ada alat tulis atau buku bekas dan layak pakai bisa kami kumpulkan untuk dapat digunakan bagi para siswa di sekolah yang membutuhkannya. Kami sangat ingin berbagi pengetahuan dengan para sekolah yang mau 'Sharing' dengan kami mengenai metode pengajaran-pemanfaatan daur ulang atau apapun.

Cerita di layar kaca tadi kami 'sharing'kan pada para siswa SD saat ikrar pagipada Kamis 16 Juli,ke 450 siswa terdiam, dan kami minta komentar mereka secara acak (ini bagian dari lifeskill yang kami ajarkan disekolah 'compassion') Tidak semua komentar dapat kami dengar karena terbatasnya waktu.Ada saja komentar mereka 'kasihan'...'untung kita tidak begitu..." sampai ada tambahan komentar lucu ' pindah aja ke Jakarta' 'ajak saja kesekolah kita? (wah sayang ... ini lebih tidak mungkin, kapasitas kelas kita saja sudah tidak bisa menerima siswa baru lagi) Sharing pada saat ikrar adalah bagian dari rasa syukur kami sebagai guru berharap di 5 menit pertama para siswa mau belajar dan mendapatkan pelajaran betapa pentingnya 'pembelajaran karakter' bagi kehidupan mereka dimasa yang akan datang

Yang kami bisa lakukan sebagai tanda bersyukurnya kami, barulah melaksanakan amanah yang diberikan pada kami sekuat kemampuan kami, walaupun tentunya masih jauh dari kesempurnaan,semoga Allah senantiasa membimbing kami

0 komentar:


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Flowers and Decors. Powered by Blogger